The Infinite Monkey Theorem

matematika di balik kemungkinan terciptanya buku

The Infinite Monkey Theorem
I

Bayangkan sebuah ruangan kosong. Di dalamnya ada seekor monyet. Di depannya terdapat sebuah mesin tik tua. Si monyet kemudian mulai mengetik sembarangan. Klak. Klak. Klak. Hasilnya hampir pasti adalah omong kosong belaka. Namun, pernahkah kita membayangkan skenario yang sedikit lebih gila? Bagaimana jika kita memiliki monyet dengan jumlah tak terhingga? Dan waktu yang mereka miliki juga tak terhingga? Konon, kumpulan monyet ini pada akhirnya akan berhasil mengetik ulang seluruh karya agung William Shakespeare. Lengkap, tanpa satu pun salah ketik. Kedengarannya seperti lelucon konyol yang dilontarkan anak kecil. Namun faktanya, ini adalah salah satu eksperimen pikiran paling indah dalam dunia matematika.

II

Secara psikologis, sangat wajar jika otak kita langsung menolak ide absurd ini. Kita adalah makhluk fana. Otak manusia berevolusi murni untuk memproses hal-hal yang terbatas. Kita terbiasa berpikir tentang mencari makan untuk hari ini, atau membayar tagihan bulan depan. Sistem saraf kita memang tidak dirancang untuk mencerna konsep ketakterhinggaan atau infinity. Konsep monyet dan mesin tik ini sebenarnya diperkenalkan pertama kali pada tahun 1913 oleh seorang matematikawan Prancis bernama Émile Borel. Teori ini kemudian dikenal luas sebagai The Infinite Monkey Theorem. Tentu saja, Borel sebenarnya tidak sedang membicarakan hewan primata atau kebun binatang. Ia sedang mengajak kita melihat kenyataan yang jauh lebih besar. Ia menggunakan monyet sebagai metafora untuk menjelaskan cara kerja peluang dan ketakterhinggaan di alam semesta kita. Tapi, sebelum kita sampai pada bagian yang mengejutkan, mari kita berhitung sedikit bersama-sama.

III

Mari kita ambil sebuah mesin tik standar yang memiliki 50 tuts. Peluang si monyet mengetik huruf 'H' secara tidak sengaja adalah 1 berbanding 50. Lalu, berapa peluang ia mengetik kata 'HALO'? Kita tinggal mengalikan probabilitasnya. Satu per lima puluh pangkat empat. Hasilnya adalah 1 berbanding 6,25 juta. Bayangkan, monyet kita harus mengetik lebih dari enam juta kali secara acak hanya untuk menghasilkan satu kata sederhana. Sekarang, mari kita tingkatkan skalanya. Bayangkan sebuah buku utuh yang berisi ratusan ribu karakter. Secara matematis, angka probabilitasnya menjadi sangat masif hingga tak terbayangkan. Saking besarnya, jika kita menempatkan semiliar monyet yang mengetik sejak awal mula alam semesta ini terbentuk—yakni sekitar 13,8 miliar tahun lalu—mereka bahkan belum tentu berhasil mengetik satu halaman utuh yang masuk akal. Rasanya benar-benar mustahil, bukan? Lalu, mengapa para ilmuwan begitu yakin bahwa buku tersebut pada akhirnya akan tercipta? Di sinilah letak kuncinya. Otak kita yang terbatas ini melupakan satu variabel utama. Variabel yang akan membalikkan seluruh logika kita.

IV

Variabel penentu itu adalah ketakterhinggaan itu sendiri. Teman-teman, infinity bukanlah sekadar angka yang sangat besar. Ia adalah sebuah kondisi mutlak tanpa batas. Otak kita sering kali keliru menyamakan 'waktu yang sangat lama' dengan 'waktu yang tak terhingga'. Padahal, keduanya sangat berbeda secara fundamental. Di dalam ilmu probabilitas dan matematika murni, ada sebuah hukum yang sangat tegas. Jika sebuah peristiwa memiliki peluang lebih besar dari nol—sekecil apa pun itu—maka jika diulang dalam jumlah percobaan yang tak terhingga, peristiwa itu pasti akan terjadi. Peluang terjadinya tidak lagi mendekati angka nol, melainkan menjadi angka satu. Atau seratus persen pasti. Dalam hamparan waktu yang benar-benar tidak ada ujungnya, monyet-monyet ini tidak hanya akan mengetik karya Shakespeare. Mereka akan mengetik resep masakan ibunda kita. Mereka akan mengetik sejarah detail kehidupan kita dari lahir hingga hari ini. Dan mereka akan mengetik setiap variasi cerita yang mungkin terjadi di alam semesta. Ketakterhinggaan pada akhirnya mengubah sesuatu yang mustahil menjadi sebuah kepastian mutlak.

V

Lalu, apa makna semua matematika dingin ini untuk kita sebagai manusia? Mengapa kita perlu memikirkan monyet imajiner yang kelelahan mengetik di ruang hampa? Konsep ini sebenarnya mengajarkan kita tentang empati dan kerendahan hati yang luar biasa. Alam semesta tempat kita bernaung mungkin beroperasi dengan hukum ketakterhinggaan yang tak peduli pada perasaan kita. Namun, di tengah hamparan probabilitas yang luas itu, kita ada di sini sekarang. Kita hidup dan bernapas di ruang dan waktu yang sangat, sangat terbatas. Seekor monyet membutuhkan waktu tak terhingga untuk menciptakan makna dari sebuah ketidaksengajaan. Namun, kita tidak butuh waktu selama itu. Kita memiliki kesadaran. Kita memiliki kemampuan dan empati untuk memilih kata-kata kita, tindakan kita, dan jalan hidup kita sendiri setiap harinya. Kita tidak sedang mengetik secara acak di mesin tik kehidupan semesta. Kita adalah penulis utama dari cerita kita sendiri. Jadi, selagi kita masih memiliki waktu yang terbatas dan berharga ini, mari kita tulis cerita yang benar-benar bermakna untuk diri kita dan orang-orang di sekitar kita.